Webinar BPI 4-A Prodi BPI FDIKOM
Webinar BPI 4-A Prodi BPI FDIKOM

Pada hari Jum’at, 28 Mei 2021 telah dilaksanakan kegiatan webinar melalui zoom cloud meeting oleh para mahasiswa semester 4 kelas A, Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun Tema yang diangkat pada webinar ini yaitu "Membangun Komunikasi Interpersonal Yang Baik Dalam Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Mahasiswa Di Masa Pandemi". Webinar dimulai pada Pukul 13.00 WIB, dengan jumlah peserta mencapai 100 orang lebih .

Kegiatan Webinar ini dimoderatori oleh Lia Oktaviani (Mahasiswi BPI semester 4) dengan MC Salsa Nabilah Rahmawati (Mahasiswi BPI semester 4). Ada 2 narasumber pada webinar ini. Narasumber pertama adalah Abdul Aziz., M.Psi yang merupakan Dosen Psikologi Prodi BPI UIN Jakarta. Sedangkan narasumber kedua adalah Faatihatul Ghaybiyyah., M.Psi yang merupakan Pemuda Hebat Kemenpora pada tahun 2018 dan Editor Kampusdesa.or.id dan beliau juga seorang Dosen Uin Jakarta. Susunan kegiatan Webinar ini dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Lisa Mulia, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Dakwah, dan Hymne BPI. Setelah itu, acara dilanjut dengan pemberian sambutan oleh Ketua Panitia Webinar.

Sambutan ketua Panitia webinar disampaikan oleh oleh Fatia Zahra Lissawa. Pada sambutannya, ia menyampaikan bahwasanya alasan mengangkat tema webinar kali ini kerena pentingnya urgensi komunikasi interpersonal dalam kehidupan sehari-hari terutama pada diri mahasiswa sebagai pemuda. Sejak masa pandemi Mahasiwa diharuskan belajar dari dari rumah sehingga segala kegiata menjadi terhambat dan kurang efektif dan kondusif. Selain itu juga menyampaikan terimakasih atas kehadiran Kaprodi BPI  dan Dosen pengampu mata kuliah psikologi Komunikasi dan Tabligh dan para panitia dan juga para Narasumber yang telah bersedia mengisi materi webinar hari ini 

Dilanjutkan oleh sambutan dari Dosen Matkul Psikom&Tabligh yaitu  Nasichah Asy Ari.,M.A. menyampaikan bahwa  “Dengan memberikanTransfer ilmu dari para pemateri dan bisa memberikan motivasi kepada mahasiswa sehingga mempunya skill dalam komunikasi interpersonal terutama menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan problem solving dan problematika yang ada terutama di masa pandemi, permasalahan di masa pandemi ini sangat komplek walaupun sudah satu tahun ternyata masih aja persoalan yang memang harus diperhatikan secara interpersonal , karena ini merupakan interpretasi dari perkuliahan yang ada di kelas sehingga disini kemampuan untuk menjalin kerja sama dan kemampuan untuk negosiasi bersifat asertif dan kemudian dan mampu mengatasi problem solving dan mampu membaca kebutuhan masyarakat dengan need assessment, webinar ini sangat bagus dan saya memberikan kelonggaran memberikan tema kepada mahasiswa dan juga memberikan penghargaan yang tinggi terhadap narasumber pada hari ini yang senantiasa membrikan warna”.

Selanjutnya yang memberikan sambutan terkahir dari Noor Bekti Negoro., S.E, M.Si selaku Kaprodi BPI  yang mengatakan bahwa “ sebagai seorang penyuluh tentunya komunikasi sangat diperlukan, bagaimana memecah permasalahan yang ada. Di masa pandemicini banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan penghasilannya berkurang dan banyak hal-hal yang terjadi pada masa pandemi ini.

Kemudian masuk ke acara inti yaitu penyampaian materi pertama yaitu dari Abdul Aziz., M.Psi. Dalam materinya beliau menyampaikan bahwa kemampuan problem solving membutuhkan rasional yang tinggi, ide terbuka, pikiran jernih, agar terbukanya pikiran baru. Problem pada mahasiswa di masa pandemi ini sulit memahami materi, kekurangan diskusi karena jarak juga menimbulkan sebuah trauma, maka dari itu berdampak pada pasifnya komunikasi dan sulit merespon. Mahasiswa harus tahu statusnya berbeda dengan adik-adik sekolah seperti SD SMP kenapa? karena Mahasiswa memiliki tuntutan besar atau menjadi agent of change, membawa sebuah perubahan bagi masyarakat di sekitarnya, karena di masa pandemi ini maka mahasiswa harus berusaha sendiri supaya lebih efektif bagi pemahaman diri sendiri. Mahasiswa juga dituntut kreativitas dan inovasi, maka dari itu mahasiswa juga harus  mencari pesan atau materi di lingkungan publik seperti masyarakat media jurnal berita laporan penelitian atau lain-lain.

Lalu dilanjutkan materi kedua oleh Faatihatul Ghaybiyyah., M.Psi menjelaskan pentingnya interpersonal yaitu petama meningkatkan kualitas hubungan antar individu, kedua pribadi berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain, ketiga menghindari dan mengatasi konflik dan keempat, memberi motivasi. dan Narasumber juga memberikan tips di kala pandemic yaitu dengan istilah KEPO.  K(Kepekaan diri)  E(Empati)  P(Pendengar yang baik) O(Olah Bahasa). Untuk menjadi mahasiswa yang unggul, tidak hanya mengandalkan kemampuan intelektual, namun juga kemampuan untuk menghasilkan perubahan yang ada pada diri dan juga lingkungan.

Setelah semua materi selese dijelaskan kemudia ada pertanyaan yang di lontarkan dari Umar Rifki (Mahasiswa semester 12) bertanya kepada bapak abdul aziz, pertanyaannya yaitu bahwasanya beliau mengatakan bahwa ketika komunikator menyampaikan apapun itu kepada komunikan harus ada kejujuran. Bagaimana kalau kita sebagai komunikakator menyampaikan kebohongan demi kebaikan, misalnya ngasihtau orang berbuat baik, apakah boleh menaruh cover lain dari diri kita padahal sebaenanrya tidak begitu?  Pak Aziz Menjawab “ Pendengar yang baik tidak bisa dikatakan pasif, kita harus timbal balik, melalui ini melakukan penolakan terhadapa cerita dari cerita lain, kalua ada sebuah pernyataan yang tidak setuju sampaikan saja, selama pesan yang disampaikan tidak mengganggu personal dia, pesan yang disampaikan membangun, makanya dalam ilmu pengetahuan itu dalam konteks komunikasi aspeknya adalah, pikiran hati baru perilaku, harus bisa menarik melalui kognisi.  Memikirkan dulu masuk akal atau tidak, persoalan attitude tidakpapa selama itu demi kemaslahatan dia. Yang paling diutamain adalah cara berfikir atau kognisi, kalau ada perbedaan pendapat juju saja selama tidak menjatuhkan personal. Terbuka walaupun tidak sesuai dengan akal sehat”. Dari Buk Faatihatul Ghaybiyyah., M.Psi Menjawab “sesuatu yang bukan kebenaran, akan menambah masalah di kamu sendiri, jadi lebih baik katakana yang sebenarnya walaupun tidak mengenakkan walaupun itu pahit”.

Pertanyaan selanjutnya dari Qory_Universitas Gunadarma_Bagaimana jika komunikator  tersebut tidak mengharapkan feed back (hanya ingin didengarkan) dalam komunikasi interpersonal yang sedang dilakukan, apa yang harus di lakukan oleh si komunikan nya ?
jawaban dari buk Faatihatul Ghaybiyyah., M.Psi menjawab: “Dengerin aja selagi punya waktu dan bersedia untuk mendengarkan, melihat apa yang dia ceritakan, kurang lebih masalah ini lumayan berat. Karena barang kali yang dicerikan tidak bisa dicerikan kepada orang lain hanya kepada kalian, karena mendapatkan teman pendengar yang baik tidak mudah. Pak Aziz Menjawab “ Disinilah pentingnya sebagai pendengar, sebagai pendengar ada ilmunya. Kita sebagai pendengar harus bisa membaca situasi, ada komunkator yang tidak mau diberikan feedback, karena permasalah tidak semua membutuhkan analasis, permasalaha komunikator yang diceritakan diucapkan secara sendiri sudah selese. Seorang akademis akan lebih mudah melihat siatuasi apakah dia harus menanggapi atau tidak Ketika menjadi komunikan. Biasanya persoalan emosi yang begitu keras dampaknya di kehidupan dia, misalnya kekerasan rumah tangga yang berdampak pada hati mereka jadi Ketika kita memberikan ruang untuk berdiskusi terhadapa hati mereka akan lebih rumit. Inilah perlunya pemahaman tentnag perspektik pendekatan-pendekatan ilmu pengatahun, penting untuk menyelediki kebutuhan pendeketan apa untuk memberikan treatment”.

Setelah selesai sesi tanya jawab, , penyerahan sertifikat kepada kedua narasumber dan acara diakhiri dengan foto bersama. kegiatan diakhir dengan doa bersama yang dipimpin oleh Muhammad Rizal Munggaran.