Lebih jauh, ia menekankan peran strategis Asosiasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (ASKOPIS) dalam memperkuat ekosistem akademik komunikasi Islam di Indonesia. ASKOPIS, menurutnya, memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak kolaborasi riset, pengembangan kurikulum, serta perluasan jejaring akademik internasional. Ia mendorong agar forum seperti KNKI dan AICIMDS tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga menghasilkan kerja sama konkret seperti joint research, publikasi bersama, hingga pertukaran akademisi lintas negara.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie juga menyoroti urgensi pembaruan kurikulum Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Ia menilai bahwa kurikulum KPI harus mampu menjawab tantangan era kecerdasan buatan (artificial intelligence), ekonomi kreator digital, serta perubahan pola konsumsi media masyarakat global. Lulusan KPI, lanjutnya, perlu dipersiapkan sebagai komunikator yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, kemampuan analisis kritis, serta literasi digital yang kuat.
“Komunikasi Islam masa depan harus melahirkan generasi yang mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan jati diri keislamannya,” tegasnya dalam pidato tersebut.
Panitia penyelenggara menyampaikan bahwa pelaksanaan konferensi gabungan nasional dan internasional ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat kajian komunikasi Islam di kawasan Asia Tenggara. Dengan melibatkan peserta dari berbagai negara, forum ini diharapkan mampu memperluas perspektif keilmuan sekaligus memperkuat diplomasi akademik Indonesia di tingkat global.
Prof. Tholabi menutup pidatonya dengan ajakan untuk menjadikan konferensi ini sebagai ruang kolaborasi jangka panjang. Ia menekankan bahwa masa depan komunikasi Islam sangat bergantung pada kemampuan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membangun jejaring global yang solid, produktif, dan berkelanjutan.
“Melalui forum ini, kita tidak hanya bertukar gagasan, tetapi juga membangun masa depan bersama bagi komunikasi Islam yang lebih inklusif, adaptif, dan berdaya saing global,” ujarnya.