Petualangan Mahasiswi PMI di Titik Nol Indonesia
Saya Hanifah Chairani salah satu mahasiswi semester 7 jurusan Pengembangan Masyarakat Islam. Saya akan berbagi pengalaman ketika saya mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan oleh CV. International Youth Leader chapter Titik Nol Indonesia batch 28 di Banda Aceh. Saya menjadi salah satu delegasi terpilih dari ratusan orang yang mendaftar serta menjadi satu dari dua orang perwakilan mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengikuti program ini.
Kegiatan berlangsung pada 13-15 Juni 2021, ada 20 delegasi tergabung dari berbagai suku, agama, instansi dan asal daerah. Saya mengikuti rangkaian program selama 3 hari 2 malam dengan kegiatan yang focus pada pengenalan budaya dan adat Aceh, mempelajari materi seputar wirausaha sampai study banding tentang proses pembuatan minyak nilam di Pusat Penelitian Minyak Nilam Universitas Syiah Kuala. Dalam hal ini saya dan teman-teman fokus pada hal mencari potensi pariwisata Aceh untuk mengembangkan wirausaha yang dimiliki. Setelah melakukan kunjungan dan mengikuti kelas materi wirausaha, kami diharuskan membuat essay selama kegiatan berlangsung dan kemudian mempresentasikannya untuk mendapatkan solusi serta saran yang cocok untuk diusulkan pada pemerintah Aceh.
Di hari pertama kegiatan berlangsung, kami berkumpul untuk berkeliling Banda Aceh, diperkenalkan suasana museum tsunami, pemakaman umum massal korban tsunami, rumah perjuangan Cut Nyak Dien, dan tempat-tempat bersejarah Aceh yang menjadi saksi bisu tsunami di tahun 2004. Kami juga diperkenalkan makanan khas Aceh, kultur dan kebiasaan masyarakat disana, cerita unik hukum islam yang diterapkan hingga pergaulan anak-anak muda setempat. Malam harinya kami saling berbagi cerita sekaligus berkenalan satu dengan lainnya, di saat ini saya merasa bahwa Indonesia memiliki begitu banyak anak muda berbakat dan memiliki semangat berapi-api untuk membangun negeri.

Di hari kedua, kegiatan yang berlangsung merupakan sesi materi kewirausahaan yang dipandu oleh salah satu pengusaha kopi Gayo kemasan yang sudah menjelajahi pasar kopi Internasional, yaitu Bang Badawi. Dilanjutkan dengan Forum Group Discussion dengan membentuk kelompok beranggotakan 5 orang, setiap kelompok menuangkan ide tentang negara mana yang kiranya dapat berkolaborasi membangun eko-pariwisata di Banda Aceh. Satu kelompok terbaik dengan ide kolaborasi Dubai dan Aceh dimana mereka menonjolkan julukan Aceh yang disebut sebagai kota Serambi Mekkah, kelompok tersebut menyebutkan bahwa banyaknya orang dengan kekayaan berlimpah akan tertarik mengunjungi Aceh bukan hanya dari segi berwisata di alamnya saja melainkan akan tertarik juga dengan budaya, sejarah dan hasil buminya.
Pada hari terakhir, saya dan delegasi lainnya melakukan study banding di Universitas Syiah Kuala tepatnya di Atsiri Research Center yang memproduksi minyak nilam sendiri mulai dari tanaman nilam hingga penyulingan menjadi minyak nilam murni, dimana minyak ini merupakan bahan dasar pembuatan aneka wewangian. ARC ini sudah menjadi tempat bisnis sekaligus pemberdayaan masyarakat setempat juga karena minyak nilam dan olahannya dijual di pasaran dan minyak nilam olahan kasar dibeli dari petani nilam setempat, selain itu beberapa penghargaan juga di dapatkan dari berbagai kampus diluar negeri. Disana, saya dan teman-teman mempelajari setiap langkah pembuatan minyak nilam dan mencoba berbagai produk yang berhasil diciptakan oleh para mahasiswanya, produk tersebut diantaranya sabun, parfum, lulur, minyak angin, dan lainnya.
Perjalanan saya selama 3 hari di Banda Aceh memanglah sebentar dan singkat, namun banyak kesan dan pesan yang saya dapatkan. Adapun kesan saya selama mengikuti program International Youth Leader chapter Titik Nol batch 28, saya merasa sangat bahagia dan beruntung sebab dapat mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi. Apalagi dengan latarbelakang suku, adat, hingga agama yang berbeda menjadikan saya pribadi yang jauh lebih percaya diri dan bersyukur, sebab bertemunya saya dengan para delegasi lain mengajarkan saya bahwa sehebat apapun kita saat ini, pasti ada yang jauh lebih hebat. Dan, meskipun kita tidak berbakat atau tidak memiliki banyak kemampuan di banding orang lain tidak sepatutnya kita meremehkan diri sendiri. Intinya, setiap hal yang kita miliki hanya perlu disyukuri agar terhindar dari sombong dan rasa tidak percaya diri.
Semoga, semakin banyak mahasiswa/i di Indonesia, khususnya mahasiswa Fidikom UIN Jakarta mengikuti program International Youth Leader atau sejenisnya agar pemikiran semakin terbuka dan dapat menjadi mahasiswa/i kritis yang mampu membangun negeri Indonesia jauh lebih baik.
Kegiatan berlangsung pada 13-15 Juni 2021, ada 20 delegasi tergabung dari berbagai suku, agama, instansi dan asal daerah. Saya mengikuti rangkaian program selama 3 hari 2 malam dengan kegiatan yang focus pada pengenalan budaya dan adat Aceh, mempelajari materi seputar wirausaha sampai study banding tentang proses pembuatan minyak nilam di Pusat Penelitian Minyak Nilam Universitas Syiah Kuala. Dalam hal ini saya dan teman-teman fokus pada hal mencari potensi pariwisata Aceh untuk mengembangkan wirausaha yang dimiliki. Setelah melakukan kunjungan dan mengikuti kelas materi wirausaha, kami diharuskan membuat essay selama kegiatan berlangsung dan kemudian mempresentasikannya untuk mendapatkan solusi serta saran yang cocok untuk diusulkan pada pemerintah Aceh.
Di hari pertama kegiatan berlangsung, kami berkumpul untuk berkeliling Banda Aceh, diperkenalkan suasana museum tsunami, pemakaman umum massal korban tsunami, rumah perjuangan Cut Nyak Dien, dan tempat-tempat bersejarah Aceh yang menjadi saksi bisu tsunami di tahun 2004. Kami juga diperkenalkan makanan khas Aceh, kultur dan kebiasaan masyarakat disana, cerita unik hukum islam yang diterapkan hingga pergaulan anak-anak muda setempat. Malam harinya kami saling berbagi cerita sekaligus berkenalan satu dengan lainnya, di saat ini saya merasa bahwa Indonesia memiliki begitu banyak anak muda berbakat dan memiliki semangat berapi-api untuk membangun negeri.

Di hari kedua, kegiatan yang berlangsung merupakan sesi materi kewirausahaan yang dipandu oleh salah satu pengusaha kopi Gayo kemasan yang sudah menjelajahi pasar kopi Internasional, yaitu Bang Badawi. Dilanjutkan dengan Forum Group Discussion dengan membentuk kelompok beranggotakan 5 orang, setiap kelompok menuangkan ide tentang negara mana yang kiranya dapat berkolaborasi membangun eko-pariwisata di Banda Aceh. Satu kelompok terbaik dengan ide kolaborasi Dubai dan Aceh dimana mereka menonjolkan julukan Aceh yang disebut sebagai kota Serambi Mekkah, kelompok tersebut menyebutkan bahwa banyaknya orang dengan kekayaan berlimpah akan tertarik mengunjungi Aceh bukan hanya dari segi berwisata di alamnya saja melainkan akan tertarik juga dengan budaya, sejarah dan hasil buminya.
Pada hari terakhir, saya dan delegasi lainnya melakukan study banding di Universitas Syiah Kuala tepatnya di Atsiri Research Center yang memproduksi minyak nilam sendiri mulai dari tanaman nilam hingga penyulingan menjadi minyak nilam murni, dimana minyak ini merupakan bahan dasar pembuatan aneka wewangian. ARC ini sudah menjadi tempat bisnis sekaligus pemberdayaan masyarakat setempat juga karena minyak nilam dan olahannya dijual di pasaran dan minyak nilam olahan kasar dibeli dari petani nilam setempat, selain itu beberapa penghargaan juga di dapatkan dari berbagai kampus diluar negeri. Disana, saya dan teman-teman mempelajari setiap langkah pembuatan minyak nilam dan mencoba berbagai produk yang berhasil diciptakan oleh para mahasiswanya, produk tersebut diantaranya sabun, parfum, lulur, minyak angin, dan lainnya.
Perjalanan saya selama 3 hari di Banda Aceh memanglah sebentar dan singkat, namun banyak kesan dan pesan yang saya dapatkan. Adapun kesan saya selama mengikuti program International Youth Leader chapter Titik Nol batch 28, saya merasa sangat bahagia dan beruntung sebab dapat mengenal banyak orang-orang hebat yang menginspirasi. Apalagi dengan latarbelakang suku, adat, hingga agama yang berbeda menjadikan saya pribadi yang jauh lebih percaya diri dan bersyukur, sebab bertemunya saya dengan para delegasi lain mengajarkan saya bahwa sehebat apapun kita saat ini, pasti ada yang jauh lebih hebat. Dan, meskipun kita tidak berbakat atau tidak memiliki banyak kemampuan di banding orang lain tidak sepatutnya kita meremehkan diri sendiri. Intinya, setiap hal yang kita miliki hanya perlu disyukuri agar terhindar dari sombong dan rasa tidak percaya diri.
Semoga, semakin banyak mahasiswa/i di Indonesia, khususnya mahasiswa Fidikom UIN Jakarta mengikuti program International Youth Leader atau sejenisnya agar pemikiran semakin terbuka dan dapat menjadi mahasiswa/i kritis yang mampu membangun negeri Indonesia jauh lebih baik.
