Perkuat Keilmuan Dakwah, Program Studi Manajemen Dakwah FDIKOM UIN Jakarta Sukses Selenggarakan Seminar Internasional bertema “Transformasi Dakwah di Era Digital”
Jakarta, 4 Mei 2026 — Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menyelenggarakan Seminar Internasional bertema “Transformasi Dakwah di Era Digital” yang bertempat di Teater Lantai 2 FDIKOM.
Dalam sambutannya sebagai keynote speaker, Dekan FDIKOM, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si, menegaskan bahwa transformasi dakwah di era digital merupakan sebuah keniscayaan. Namun demikian, adaptasi teknologi harus tetap berpijak pada nilai-nilai fundamental Islam.
Selain itu, Dekan juga menyoroti pentingnya penguatan keilmuan dakwah sebagai disiplin akademik. Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya berbasis pengalaman praktis, tetapi harus diperkuat dengan: Pendekatan ilmiah, riset, dan metodologi yang kokoh, Integrasi antara khazanah klasik dan pendekatan kontemporer, termasuk digitalisasi.
Lebih lanjut, beliau menegaskan pentingnya keberlanjutan kerja sama internasional sebagai bagian dari pengembangan dakwah ke depan. Kerja sama dengan ulama dan akademisi global dinilai strategis untuk: Memperluas jejaring akademik internasional, Meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi, Menghadirkan perspektif global dalam kajian dakwah.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber internasional, Prof. Dr. Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni, seorang profesor di bidang Fiqh dan Ilmu Dakwah, yang menyampaikan gagasan mendalam tentang pentingnya memahami dakwah sebagai bagian dari warisan kenabian (al-irts an-nabawi).
Dalam pemaparannya, Prof. Al-Bayanuni menegaskan bahwa dakwah tidak boleh dipahami sekadar sebagai aktivitas retorika, profesi, atau media popularitas di era digital. Lebih dari itu, dakwah merupakan warisan agung para nabi yang mengandung dua dimensi utama: Tasyriif (kemuliaan): karena menjadi penerus misi kenabian, Takliif (tanggung jawab): karena wajib menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran Islam secara benar.
Beliau juga mengkritisi fenomena dakwah di era digital yang kerap terjebak pada formalitas, konten semata, bahkan kepentingan personal, sehingga melupakan esensi dakwah sebagai amanah ilahi.
Lebih lanjut, Prof. Al-Bayanuni menjelaskan bahwa keberhasilan seorang dai sebagai “pewaris Nabi” ditentukan oleh kemampuannya memenuhi empat hak utama dalam dakwah, yaitu:
Hak terhadap warisan (ilmu dan risalah): Meliputi menjaga kemurnian ajaran, mengamalkannya dalam kehidupan, serta menyebarkannya kepada masyarakat secara luas.
Hak terhadap Rasulullah ﷺ: Yaitu menjaga keaslian risalah dan meneruskan ajaran beliau tanpa penyimpangan.
Hak terhadap sesama dai: Dakwah harus dibangun atas dasar kolaborasi, bukan kompetisi, dengan menjunjung tinggi musyawarah dan saling menghargai.
Hak terhadap umat: Dakwah harus menghadirkan kasih sayang, memperkuat persatuan, serta melindungi umat dari berbagai bentuk kerusakan moral dan sosial.
Menyoroti perkembangan teknologi, Prof. Al-Bayanuni menegaskan bahwa era digital hanyalah alat, bukan tujuan. Oleh karena itu, platform digital harus dimanfaatkan untuk: Menyebarkan nilai-nilai kebaikan, Memperkuat ukhuwah Islamiyah, Menghindari konflik, ego, dan perpecahan
Ia juga menekankan bahwa keikhlasan menjadi indikator utama keberhasilan dakwah, yang dapat dilihat dari kemampuan seorang dai untuk menghargai keberhasilan orang lain dan tidak menjadikan dakwah sebagai ajang persaingan.
Pada sesi lanjutan yang berlangsung di ruang meeting lantai 2, Ketua Program Studi Manajemen Dakwah, Dr. Amirudin, M.Si, menyampaikan pentingnya momentum seminar internasional ini sebagai bagian dari penguatan keilmuan dakwah di lingkungan akademik.
Dakwah harus terus dikembangkan sebagai disiplin ilmu yang berbasis riset dan metodologi ilmiah. Integrasi antara ilmu dakwah klasik dan pendekatan kontemporer (termasuk digital) menjadi kebutuhan mendesak. Mahasiswa dan dosen perlu didorong untuk aktif dalam pengembangan kajian dakwah berbasis global.
Seminar yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 13.15 WIB ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta praktisi dakwah. Diskusi berlangsung aktif, terutama dalam sesi tanya jawab dan panel yang membahas tantangan dakwah kontemporer di tengah arus digitalisasi.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan apresiasi atas terselenggaranya seminar internasional ini.

Melalui seminar ini, diharapkan para peserta mampu merefleksikan kembali peran dakwah sebagai amanah besar dalam melanjutkan misi kenabian. Transformasi digital hendaknya tidak mengubah nilai dasar dakwah, melainkan menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dan memperkuat dampaknya bagi umat. (A. Hafiz)
