PBAK FDIKOM UIN Jakarta 2026 Tanamkan Kesadaran Digital dan Ekologis Berlandaskan Nilai Islam
PBAK FDIKOM UIN Jakarta 2026 Tanamkan Kesadaran Digital dan Ekologis Berlandaskan Nilai Islam

Poros Merdeka, Jakarta — Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menyelenggarakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru pada 28–29 Agustus 2026. Mengusung tema besar “Bijak Berteknologi dan Arif Berekologi Berlandaskan Nilai-Nilai Islam”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kehidupan akademik sekaligus menanamkan kesadaran digital dan ekologis kepada generasi mahasiswa baru.

PBAK FDIKOM UIN Jakarta tidak hanya diarahkan sebagai agenda seremonial penyambutan mahasiswa baru. Rangkaian kegiatan menjadi ruang awal untuk membangun karakter mahasiswa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memiliki kecakapan dalam memanfaatkan teknologi, serta mempunyai kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat.

Pemilihan tema tersebut menjadi relevan di tengah perubahan teknologi digital yang berlangsung begitu cepat. Kehadiran media sosial, kecerdasan artifisial, dan berbagai platform digital telah mengubah cara generasi muda belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, hingga membangun relasi sosial.

Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan. Mahasiswa dihadapkan pada derasnya arus informasi, disinformasi, persoalan etika digital, serta berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi. Karena itu, kecakapan digital tidak cukup hanya dimaknai sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan platform digital, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab.

Dalam rangkaian PBAK, Ahmad Doli Kurnia Tanjung selaku Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI hadir sebagai narasumber untuk memberikan perspektif kepada mahasiswa mengenai tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

Kehadiran Ahmad Doli memberikan ruang bagi mahasiswa baru untuk melihat perkembangan teknologi bukan hanya dari sisi kemudahan dan peluang, tetapi juga dari perspektif tanggung jawab generasi muda dalam menggunakannya. Teknologi dapat menjadi instrumen untuk pendidikan, kreativitas, produktivitas, komunikasi publik, serta pengembangan masyarakat apabila digunakan secara tepat.

Pesan mengenai pentingnya menjadi generasi muda yang bijak dalam menggunakan teknologi menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain kesadaran digital, PBAK FDIKOM UIN Jakarta juga menekankan pentingnya kesadaran ekologis. Konsep “Arif Berekologi” menjadi bagian dari tema besar kegiatan sebagai bentuk ajakan kepada mahasiswa untuk memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan.

Berbagai persoalan ekologis seperti pencemaran lingkungan, persoalan sampah, perubahan iklim, kerusakan ekosistem, serta bencana ekologis menjadi tantangan yang membutuhkan perhatian lintas generasi. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat memiliki ruang untuk mengambil peran dalam membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku terhadap lingkungan.

Ketua Pelaksana PBAK FDIKOM UIN Jakarta, Akbar Zakiy Hidayatullah, mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam PBAK tahun ini merupakan respons terhadap persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa.

"PBAK tidak hanya kami maknai sebagai proses pengenalan kampus kepada mahasiswa baru. Kami ingin ada nilai dan pesan yang bisa dibawa setelah kegiatan ini selesai. Teknologi dan ekologi merupakan dua isu yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda, sehingga mahasiswa perlu dibekali kesadaran untuk menghadapi keduanya secara bijak,” ujar Akbar.

Menurut Akbar, mahasiswa baru diharapkan tidak hanya memahami bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampak dari penggunaannya.

"Kami berharap mahasiswa baru bisa menjadi generasi yang cakap secara digital, tetapi tetap memiliki etika. Teknologi harus digunakan untuk hal-hal produktif, edukatif, dan memberikan manfaat. Pada saat yang sama, kepedulian terhadap lingkungan juga harus menjadi bagian dari karakter mahasiswa,” tambahnya.

"Mahasiswa hari ini berada di tengah perubahan yang sangat cepat. Kita tidak mungkin menghindari teknologi, tetapi kita harus mampu menggunakannya secara bijak. Begitu juga dengan persoalan lingkungan, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus memiliki keberanian untuk membaca persoalan dan mengambil peran,” ungkap Zidan.

Zidan menambahkan bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi fondasi dalam membangun sikap mahasiswa ketika berhadapan dengan teknologi maupun lingkungan.

"Islam mengajarkan tentang tanggung jawab, kemaslahatan, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, teknologi dan ekologi tidak seharusnya dipisahkan dari nilai. Kita membutuhkan mahasiswa yang mampu maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki prinsip dan tanggung jawab,” jelasnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Kayfin Fathoni selaku Wakil Ketua Umum DEMA FDIKOM UIN Jakarta. Menurutnya, mahasiswa FDIKOM memiliki keunggulan dalam bidang komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran publik.

"Mahasiswa FDIKOM punya ruang yang besar untuk menggunakan teknologi sebagai alat komunikasi, edukasi, dakwah, maupun advokasi. Karena itu, kemampuan digital harus diikuti dengan kemampuan untuk memproduksi informasi yang berkualitas dan bertanggung jawab,” kata Kayfin.

Kayfin juga menyoroti pentingnya menghubungkan kesadaran digital dengan kepedulian ekologis.

"Jangan sampai kita menjadi generasi yang sangat maju secara teknologi, tetapi kehilangan kepedulian terhadap lingkungan. Bijak berteknologi dan arif berekologi harus menjadi satu kesatuan. Keduanya membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab,” tambahnya.

Selama dua hari pelaksanaan, mahasiswa baru mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang memperkenalkan lingkungan fakultas, kehidupan akademik, organisasi kemahasiswaan, serta berbagai nilai yang menjadi bagian dari identitas FDIKOM UIN Jakarta.

Antusiasme mahasiswa baru menjadi salah satu bagian yang mewarnai pelaksanaan PBAK. Interaksi antara mahasiswa baru, panitia, mahasiswa senior, dan sivitas akademika menciptakan suasana yang menjadi awal terbentuknya ikatan sebagai bagian dari keluarga besar FDIKOM.

Melalui PBAK, mahasiswa baru juga diperkenalkan bahwa kehidupan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Mahasiswa memiliki ruang yang luas untuk mengembangkan kapasitas melalui organisasi, diskusi, penelitian, pengabdian masyarakat, kreativitas, dan berbagai aktivitas sosial.

PBAK FDIKOM UIN Jakarta 2026 pada akhirnya menjadi titik awal pembentukan karakter mahasiswa baru. Tema “Bijak Berteknologi dan Arif Berekologi Berlandaskan Nilai-Nilai Islam” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan kegiatan, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam sikap dan tindakan mahasiswa selama menjalani kehidupan akademik.

Kesadaran digital mengajarkan mahasiswa untuk menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan produktif. Sementara kesadaran ekologis mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan erat dengan keberlanjutan lingkungan.

Keduanya kemudian dipertemukan dengan nilai-nilai Islam sebagai landasan moral dan etis dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi generasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menentukan arah perubahan berdasarkan nilai dan tanggung jawab.

PBAK FDIKOM UIN Jakarta 2026 menjadi awal perjalanan bagi mahasiswa baru untuk tumbuh sebagai insan akademik yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi, peduli terhadap lingkungan, kritis terhadap persoalan sosial, serta menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pijakan dalam menghadapi perubahan zaman.

Sumber : https://www.porosmerdeka.com/2026/08/pbak-fdikom-uin-jakarta-2026-tanamkan.html