Menakar Eksistensi dan Relevansi Historis Prodi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) di Era Disrupsi Digital)
Menakar Eksistensi dan Relevansi Historis Prodi KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) di Era Disrupsi Digital)

Jakarta - Bertempat di Ruang Meeting Lantai 2 Gedung FDIKOM, telah dilaksanakan agenda Diskusi Komunikasi dan Penyiaran Islam (SIKOPI) pada Rabu, 8 April 2026. Pertemuan ini menjadi ajang konsolidasi intelektual yang dihadiri oleh pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan III, Ketua Program Studi KPI, dan jajaran dosen di lingkungan FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

​Acara dibuka tepat pukul 14.00 WIB oleh Kaprodi KPI, Dr. Yopi Kusmiati, M.Si., bersama moderator, Dr. Umi Musyarofah, MA. Diskusi kali ini menghadirkan Prof. Dr. H. M. Yakub, MA sebagai narasumber utama yang membedah tema krusial: "Eksistensi Prodi KPI di Indonesia: Tinjauan Historis". Dalam paparannya, Prof. Yakub menekankan bahwa di tengah arus disrupsi digital, Prodi KPI harus tetap teguh berpijak pada teori-teori Komunikasi Islam. Beliau menggarisbawahi bahwa kekuatan mahasiswa KPI terletak pada perpaduan antara kompetensi teknis, seperti perfilman dan penyiaran, dengan seni retorika yang substansial.

Memasuki sesi diskusi, suasana akademik terasa sangat hidup dengan munculnya berbagai perspektif dari para peserta. Dr. Umi Musyarofah mengawali dengan gagasan pentingnya standarisasi penulisan skripsi melalui buku modul yang bisa merangkum identitas KPI dari berbagai wilayah, mulai dari Aceh hingga Makassar.

Kritik tajam namun membangun muncul dari Dr. Canra Krisna, yang menyoroti fenomena banyaknya tokoh dakwah populer di media yang justru tidak lahir dari rahim Fakultas Dakwah. Hal ini menurutnya menjadi refleksi besar bagi lembaga untuk meninjau ulang kurikulum agar lebih relevan dengan tantangan zaman. Sejalan dengan itu, Dr. Yopi Kusmiati mendorong adanya penelusuran sejarah yang lebih mendalam mengenai asal-usul nomenklatur KPI, khususnya terkait keunikan sejarah UIN Jakarta dalam penyebutan Prodi Penerangan Agama Islam di masa lampau.

Dari sisi pengembangan kurikulum, Drs. Joni menekankan bahwa setiap pembaruan materi harus berangkat dari observasi riil terhadap kebutuhan mahasiswa. Diskusi ini kemudian diperkaya oleh perspektif historis dari Drs. Study Rijal, yang meluruskan bahwa pembentukan KPI secara hakikat adalah hasil musyawarah kolektif para Dekan pasca-pemisahan Fakultas Dakwah dari Fakultas Ushuluddin, sehingga memiliki landasan hukum yang kuat dan serentak. Pertemuan yang berlangsung hangat dan interaktif ini berakhir pada pukul 15.30 WIB. Sebagai penutup, seluruh peserta melakukan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi akademik.