FDIKOM UIN Jakarta Perkuat Ekosistem Prodi KPI melalui SIKOPI dan ASKOPIS
Jakarta, 2 Juli 2026- Diskusi bulanan SIKOPI bertajuk “ASKOPIS dan Rumah Besar KPI: Model Penguatan Ekosistem Keilmuan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Indonesia” telah diselenggarakan dengan sukses pada Kamis, 2 Juli 2026, bertempat di Ruang Meeting Lantai 2, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dipandu oleh Dr. Dedi Fahrudin, S.Sos.I, M.I.Kom, sebagai moderator.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) KPI, Dr. Yopi Kusmiati, M.Si, yang menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan gelaran SIKOPI pamungkas untuk periode 2025/2026. Selanjutnya, Dekan FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si, hadir sebagai narasumber utama dan memberikan apresiasi tinggi kepada Prodi KPI yang secara konsisten menyelenggarakan forum diskusi dosen ini sepanjang periode berjalan, dengan harapan bahwa SIKOPI dapat terus menumbuhkan nilai-nilai kebaruan dalam menunjang keilmuan secara komprehensif di lingkungan akademik.
Dalam paparannya, Prof. Gun Gun Heryanto menegaskan bahwa ASKOPIS harus bertransformasi menjadi ekosistem governance yang penting bagi perkembangan KPI di Indonesia. Beliau menekankan perlunya kolaborasi komprehensif antar-prodi KPI di skala nasional, mengingat sejarah panjang organisasi yang bermula dari FORKOPIS pada tahun 2008 hingga resmi menjadi ASKOPIS pada tahun 2016. Narasumber juga menyoroti pentingnya mempertegas identitas keilmuan KPI di tengah pesatnya digitalisasi media dan kecerdasan buatan, yang menuntut penyesuaian kurikulum serta penguatan riset dan publikasi internasional sebagai indikator kemajuan prodi. Selain itu, beliau memberikan gagasan bagi Prodi KPI UIN Jakarta untuk membentuk Desa Binaan sebagai wujud literasi masyarakat, serta mengusulkan peninjauan kembali penamaan prodi agar menjadi satu entitas yang lebih solid dengan menghapus kata "dan".

Sesi diskusi berlangsung interaktif ketika para peserta mulai menyampaikan tanggapan dan pertanyaan kritis. Dr. Rubiyanah, M.A. menggarisbawahi pentingnya kejelasan AD/ART asosiasi terkait linieritas gelar lulusan dan latar belakang anggota, sementara Dr. Wahidin mempertanyakan posisi yuridis ASKOPIS di Kementerian Agama serta perlunya institutional branding yang lebih eksplisit bagi prodi. Diskusi semakin mendalam dengan masukan dari Dr. Umi Musyarofah mengenai peran strategis ASKOPIS sebagai mitra pemberi ide bagi Kementerian Agama, serta saran dari Dr. Armawati Arbi terkait elaborasi identitas keilmuan KPI. Terakhir, Dr. Deden Mauli Drajat mengusulkan penyusunan roadmap pengembangan ASKOPIS yang dapat memfasilitasi kolaborasi penelitian berstandar Scopus bagi para dosen dan mahasiswa. Pertemuan yang dinilai sangat inspiratif dan komprehensif ini diakhiri dengan sesi doa bersama serta dokumentasi foto, di mana seluruh masukan yang ada direncanakan akan dirumuskan menjadi policy brief untuk kepentingan ASKOPIS di masa mendatang
.
