FDIKOM UIN Jakarta Luncurkan FDIKOM Dai Club, Siapkan Inkubator Dai Muda Berbasis Moderasi Beragama
FDIKOM UIN Jakarta Luncurkan FDIKOM Dai Club, Siapkan Inkubator Dai Muda Berbasis Moderasi Beragama

Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi meluncurkan FDIKOM Dai Club dalam rangkaian Seminar Nasional bertajuk “Jejaring Dai Muda untuk Penguatan Moderasi Beragama” yang digelar di Ruang Theater Prof. Dr. H. R. Husnul Aqib Suminto Lantai 2 FDIKOM, Kamis (25/6/2026). 

Peluncuran tersebut sekaligus menjadi momentum pengukuhan pengurus FDIKOM Dai Club periode 2026-2027. Organisasi yang berada di bawah koordinasi Kepala Laboratorium FDIKOM, Zakaria, M.Ag., ini beranggotakan 23 mahasiswa yang terbagi ke dalam lima departemen, yakni Departemen Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Departemen Intelektual dan Gagasan, Departemen Relasi dan Kolaborasi, Departemen Media dan Narasi, serta Departemen Pengabdian Masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan FDIKOM UIN Jakarta, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto M.Si, mengatakan FDIKOM Dai Club dibentuk sebagai wadah pembinaan dai muda yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan retorika tetapi juga membangun jejaring sosial sebagai fondasi dakwah di era kontemporer.

“Saya sebut FDIKOM Dai Club ini sebagai inkubator dai-dai muda. Bukan hanya sekadar wadah mereka bisa berdakwah tetapi membangun jejaring sosial. Sekarang dai hebat tidak akan bisa mengubah apapun hanya dengan retorika jika mengabaikan jejaring sosialnya,” ujar Gun Gun. . 

Menurut Gun Gun, FDIKOM Dai Club diharapkan menjadi bagian dari ekosistem dakwah yang inklusif dengan mengedepankan nilai-nilai kebajikan, kebijaksanaan, serta semangat keindonesiaan. Ia menegaskan organisasi ini bukan dibentuk untuk menciptakan popularitas individu, melainkan menjadi gerakan sosial yang mampu melahirkan dai-dai muda yang kolaboratif dan memberikan  manfaat bagi masyarakat. 

Tak hanya itu, ia menekankan keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Karena itu, dakwah harus mampu menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai perbedaan tanpa menghilangkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.  

“Indonesia bertumbuh dalam keberagaman. Perbedaan memang tidak bisa dihindari, tetapi selalu ada titik temu atas nama nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan. Di situlah pentingnya dialog,” jelasnya. 

Seminar nasional tersebut menghadirkan dau narasumber, yakni Dr. H. Tata Sukayat, M.Ag., Ketua Umum Masjid Raya Al-Jabbar Bandung sekaligus Pengurus Pusat Asosiasi Profesi Da’i Indonesia (APDI) serta Fauzan Hidayatullah, S. Kom. I.,CPSM., CHC., CHt., CDAI., M. Ag., Finalis AKSI Indosiar 2019, Dai Nasional dan Motivator Islam. 

Dalam pemaparannya, Tata Sukayat menjelaskan bahwa dakwah merupakan kewajiban umat Islam yang harus dijalankan oleh individu-individu yang memiliki kompetensi dan kualifikasi. Menurutnya, kualitas seorang dai menjadi faktor utama agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. 

Ia menambahkan bahwa seorang dai tidak hanya dituntut memahami materi dakwah, tetapi juga menguasai metode penyampaian, memahami kondisi mad’u, serta mampu memanfaatkan berbagai media, termasuk platform digital sebagai sarana dakwah. 

Sementara itu, Fauzan Hidayatullah menyoroti tantangan dakwah di era digital yang semakin kompleks. Menurutnya, seorang dai perlu memiliki pemahaman yang utuh mengenai moderasi beragama agar mampu menyampaikan pesan Islam secara bijaksana di tengah keberagaman masyarakat. 

Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama melahirkan sikap toleransi (tasamuh), adil (i’tidal), pertengahan (tawasut), dan keseimbangan (tawazun). Selain itu, dai juga dituntut menguasai ilmu komunikasi agar materi dakwah dapat dikemas secara efektif, menarik, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat tanpa mengurangi substansi ajaran Islam. 

Ketua Umum FDIKOM Dai Club periode 2026-2027, Ridho Al rasyid, mengatakan pembentukan organisasi ini berawal dari inisiatif para dosen yang melihat belum adanya wadah khusus bagi mahasiswa FDIKOM untuk mengmbangkan kompetensi dakwah secara kreatif dan inovatif. 

“Selama ini FDIKOM dikenal sebagai fakultas dakwah tetapi belum memilki organisasi yang secara khusus berfoks pada pengembangan dakwah. Karena itu, FDIKOM Dai CLub hadir sebagai ruang inkubasi bagi mahasiea untuk mengembangkan kompetnsi dakwhavyang mereka miliki agar leibih inovatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Ridho. (Mustika Pertiwi )