HMPS KPI MENGAJAK BERBAGAI UNIVERSITAS UNTUK MELAKUKAN “DISKUSI KOMUNIKASI” MELALUI COMMUNICATION FESTIVAL 2022
HMPS KPI MENGAJAK BERBAGAI UNIVERSITAS UNTUK MELAKUKAN “DISKUSI KOMUNIKASI” MELALUI COMMUNICATION FESTIVAL 2022
Ciputat, fdikom.uinjkt.ac.id--  Pengajian rutin Jamaah Majelis Ilmu Fakultas Dakwah (Jamilah) berlangsung pada pekan pertama November mengusung tema: Pengajin Jamilah: "Perempuan dan Ancaman Kekerasan: Korban atau Pelaku?" pada Jumat, 11 November 2022 di ruang dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sesi kajian tersebut menghadirkan pembicara Dosen Program Studi Jurnalistik dan peneliti di isu gender dan media, Dr. Bintan Humeira, M.Si., serta dimoderatori oleh Fauziah Muslimah, M.I.Kom. dan dihadiri 20 jamaah Jamilah dari dosen dan tendik. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Dekan (Wadek) 1 Bidang Akademik FDIKOM, Dr. Hj. Siti Napsiyah, MSW. menyampaikan apresiasinya pada kajian rutin yang diselenggarakan oleh Jamilah. Menurut Wadek 1,  Jamilah menjadi wadah silaturahim yang baik sekaligus menimba ilmu bersama untuk tendik dan dosen FDIKOM. "Tema kajian hari ini, saya rasa memang penting ya dan sebenarnya menjadi bahasan sharing kita pada obrolah santai di pertemuan minggu lalu soal kasus KDRT oleh public figure. Kali ini tema perempuan dan kekerasan akan dibahas langsung oleh ahlinya, Ibu Dr Bintan Humeira, M.Si., kita bisa menyimak bersama dan menjadikan pelajaran darinya, " jelas Dr. Hj. Siti Napsiyah, M.Si. dalam sambutannya. Selanjutnya, sesi pemaparan materi disampaikan langsung oleh Dr. Bintan Humeira, M.Si. yang menyoroti beberapa kasus kekerasan kepada perempuan dan juga oleh perempuan. Menurutnya, perempuan sebenarnya memang sering menjadi korban kekerasan, tapi juga berpotensi besar menjadi pelaku kekerasan, bahkan untuk sesama perempuan. "Dalam beberapa data hasil survey dan riset, pelaku kekerasan paling tinggi memang dari suami, lalu ada mantan pacar, dan kemudian data terakhir kekerasan juga dilakukan oleh ibu. Hal ini menjadi perhatian kita bahwa kekerasan yang biasanya adalah perilaku berulang bisa didukung oleh oleh orang sekitar, bahkan keluarga sendiri," jelas doktor ilmu komunikasi UI tersebut. Misalnya, tambah Dr. Bintan, kekerasan dalam konteks rumah tangga atau society perempuan itu tidak hanya soal fisik, tapi juga bisa melalui mental lewat kekerasan non verbal, atau kekerasan sosial ekonomi, seperti tidak diberi nafkah atau tidak diberi akses untuk mengembangkan diri untuk pendidikan. Hal tersebut termasuk bentuk kekerasan. "Nah, dalam konteks tersebut, saya juga menemukan literatur lain bahwa kenapa kekerasan atau pelaku kekerasan bisa mengulangi terus menerus dan dilakukan oleh orang terdekat. Karena selain jenis kekerasan yang tadi saya sebutkan, ada juga kekerasa simbolik. Maksudnya adalah saat di mana korban menjadi setuju terhadap perlakukan dari pelaku, justru bahkan korban cenderung menyalahkan diri sendiri. Hal tersbut terjadi karena banyak faktor, salah satunya bisa terjadi karena sikap normalisasi dan kurangnya empati dari orang sekitar, sehingga korban merasa malu dan yang salah adalah dirinya sendiri," papar Dr. Bintan. Untuk itu, ke depan, menurutnya, isu perempuan dan sikap kita sesama perempuan bisa dilakukan dengan menjadi support system yang baik. Dalam konteks berdakwah, kita bisa mendorong dan menjadi da'iah yang pro pada isu perempuan yang tidak membenturkan ayat atau hadist yang salah tafsirannya, sehingga sangat merugikan perempuan sebagai individu manusia yang juga punya hak bersuara dan berdaya. "Jangan sampai perilaku kekerasan itu hadir pada sesama perempuan, dan itu terjadi pada era sosial media sekarang ya.. pelaku cyber bullying kebanyakan adalah perempuan. Untuk itu, kita bisa mulai aware pada isu ini untuk paling tidak kita bangun support system yang baik pada lingkungan terdekat kita sesama perempuan," kata narsumber menutup sesi kajian Jamilah. Diskusi pengajian Jamilah tersebut berlangsung aktif dengan tambahan sharing pengalaman dan opini lain soal isu perempuan dari para jamaah Jamilah yang hadir. Acara diakhiri dengan foto bersama dan ramah tamah.