FDIKOM Gelar Kuliah Umum Moderasi Beragama
FDIKOM Gelar Kuliah Umum Moderasi Beragama

Wawasan Kebangsaan yang benar dan pemahaman keislaman yang komprehensif perlu diberikan kepada mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta agar tidak terpapar paham radikalisme yang membahayakan idiologi dan kesatuan negara Republik Indonesia. Untuk merealisasikan hal tersebut, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan  Drs. Cecep Castra Wijaya, M.Si berinisiatif mengadakan Webinar Kuliah Umum bertema Moderasi Agama Menguatkan Akar Keagamaan Dalam Konteks Bhineka Tunggal Ika. Menggunakan Zoom dan live You Tube DnK TV kegiatan tersebut dilaksanakan hari Kamis, 8 Oktober 2020 dari pukul 09.00-12.00 WIB. Hadir membuka kegiatan Dekan Fdikom Suparto, M.Ed, Ph.D, Keynote Speach Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag, Narasumber Dr. Arief Subhan, MA, Dr. A. Ilyas Ismail, MA, Dr. Edi Amin, MA, Guru Besar, Dosen dan Mahasiswa. Tercatat partisipan yang bergabung mencapai 466 peserta. Kegiatan dipandu Host Irlan Istichori Stasion Manager DnK TV dan moderator dibawakan Tsani Irsyadi Ketua Umam Dewan Mahasiswa Fdikom. Mengawali acara adalah Menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Dakwah dipimpin Putri Utami Zahira dan Pembacaan Ayat Suci Al-Quran Ikhlasul Amal.

Dekan Fdikom Suparto, M.Ed, Ph.D dalam sambutannya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Wakil rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dekanat, Guru Besar, Dosen, Kalab, Para Narasumber, Dewan Mahasiswa, DnK TV dan semua mahasiswa baru. Moderasi beragama adalah tema yang penting dan relevan terkait permasalahan social keagamaan. Dari narasumber mahasiswa akan mendapat pengetahuan Islam dan Kebangsaan, Moderasi sebagai Identitas perguruan tinggi, moderasi bukan liberalisasi dan moderasi agama dalam gerakan dan pemikiran dakwah transnasional. Kuliah umum ini adalah media kebebasan berekspresi dan berdiskusi bagi mahasiswa baru yang dapat ditanyakan langsung kepada narasumber. Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag sebagai keynote speach menyampaikan tiga hal. Pertama, Secara Historis Islam yang datang ke Indonesia bukan perspektif hokum, tetapi sufistik, berkarakter tasawuf, menekankan segi substantive Islam yang ramah terhadap budaya lokal. Kedua, Paham teologi yang masuk dan berkembang di Indonesia adalah teologi Asy’ariyah yang moderat, bukan Murji’ah, Khawarij dan Mu’tazilah. Corak Islam yang berkembang di Indonesia berkarakter moderat ditambah dengan keragaman, kemajemukan dan kebhinekaan dari segi agama, bahasa, etnis, budaya dan adat istiadat. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam harus menjadi garda terdepan dalam penerapan Islam yang moderat. Kegiatan ini sangat penting dalam memberikan wawasan kepada mahasiswa baru tentang kebangsaan dan keislaman, menegaskan kepada mahasiswa bahwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah kampus pembaharuan dan moderasi.

Melalui tema Moderasi Agama dan Komitmen Kebangsaan Dr. Arief Subhan, MA memaparkan pentingnya moderasi agama dalam konteks kebangsaan, yaitu adanya Diversity (perbedaan), Truth Claim (Pengakuan Kebenaran), Missionary Zeal Of Relegions (Semangat menyebarkan Agama), Exclusive Understanding of Relegious Texts (Pemahaman Eksklusif terhadap teks agama) dan al-Din wa al-Daulah (Agama dan Kekuasaan). Perbedaan adalah realitas yang tidak dapat dibantah, baik secara normative maupun historis. Dr. A. Ilyas Ismail menjelaskan konsep moderasi agama melawan liberalisme dan radikalisme. Indikator moderasi agama dapat dilihat dari empath hal, yaitu memiliki komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal. Dr. Edi Amin, MA memaparkan tema moderasi beragama perspektif pemikiran dan gerakan dakwan transnasional melalui pendekatan keumatan dalam membangun masyarakat bermoral, moderat, adil, ukhuwah, santun, cinta dan relagius. Gerakan dakwah Transnasional bersumber pada nilai nilai dakwah Nur (Badiuzzaman Sayid Nursyi) berbasis komunitas yang moderat, iman tauhid, ikhlas dan persaudaraan, kemandirian, integrase nilai tradisional dan kemoderanan, anti kekerasan dan partisipasi pada demokrasi.

Sesi terakhir Kuliah Umum Moderasi Beragama Menguatkan Akar Keagamaan Dalam Konteks Bhineka Tunggal Ika adalah tanya jawab dari mahasiswa, baik disampaikan secara langsung maupun via chat zoom. Ahmad Rifai bertanya tentang indikator moderasi beragama kaitannya dengan toleransi beragama. Najib Abdul mengajukan pertanyaan dapatkah Pancasila sebagai idiologi negara menjadi media membentuk muslim yan moderat. Secara bergantian ketiga narasumber memberikan jawaban yang luas dan mendalam kepada peserta kuliah umum. (zak/mar)

Berita terkait: Moderasi Beragama dalam Menjaga Ideologi Bangsa