Fakultas  Ilmu  Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta Gelar Webinar Nasional tentang   Dakwah Virtual: Telaah  Etnografi Digital
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gelar Webinar Nasional tentang Dakwah Virtual: Telaah Etnografi Digital

Dalam rangka Milad ke 30 tahun Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dilaksanakan Webinar Nasional Selasa (12/5), Pukul 13.00-15.00 dengan tema DAKWAH VIRTUAL: TELAAH ETNOGRAFI DIGITAL, acara daring ini diinisiasi oleh Laboratorium FIDIKOM UIN Jakarta dengan ketua Ade Masturi. Webinar Nasional ini dibuka secara resmi oleh Dekan, Suparto, dan narasumber Moch Fakhruroji (Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Wahyuddin Halim (Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Alaudin Makassar), Rully Nasrullah (FIDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), sebagai moderator Fita Fathurokhmah (FIDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Webinar Nasional dilaksanakan menggunakan aplikasi Google Meeting diikuti oleh 96 partisipan seluruh Indonesia, cukup mendapatkan antusias dari peserta diantaranya dari STIT Islamiyah Karya Pembangunan Paron Ngawi, Jatim, UIN Suska Riau, UIN Antasari Banjarmasin, IAIN Kudus, IAIN Kendari, IAIN Pekalongan, FDK Unisnu Jepara, Universitas Negeri Medan, dan kampus lainnya.

Wahyuddin Halim menjelaskan bahwa Etnografi merupakan salah satu metode penelitian kualitatif yang dilakukan dengan cara peneliti berpartisipasi dengan yang sedang diteliti, peneliti terlibat dan mendokumentasikan segala data yang ditemukan dalam penelitian yang pada akhirnya kita dapat memahami fenomena dari mereka dilapangan bukan kita memahami fenomena dari interpretasi peneliti. Kalau etnografi internet itu prosedur penelitian kualitatif di internet seperti facebook, instagram, youtube, dll untuk menggambarkan, menganalisis, dan menafsirkan unsur-unsur dari sebuah kelompok budaya seperti pola perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang berkembang dari waktu ke waktu. Fokus dari penelitian ini adalah budaya penggunaan media online. Disimpulkan etnografi internet itu memindahkan cara kerja secara normal pada konteks internet atau digital. Wahyuddin memberikan contoh hasil penelitiannya berjudul Young Islamic Preachers on Facebook: Pesantren As’adiyah and Its Engagement with Social Media yang meneliti tentang bagaimana paparan dan keterlibatan media sosial telah memengaruhi kehidupan keagamaan, tradisi pesantren yang sering dikaitkan dengan konservatisme. Pesantren As’adiyah membuka diri dan menerima menggunakan teknologi modern dalam program pengajaran dan info-info individual dan kolektif.

Moch.Fakhruroji menjelaskan bahwa kajian dakwah virtual tidak hanya dapat digunakan dengan metode etnografi saja, tetapi dapat digunakan juga dengan metode lain. Misalnya metode Netnografi. Persoalan utama yang harus dijawab dan menjadi debatable adalah isi komunikasi virtual itu nyata atau hanya interaksi semua. Virtual reality dijelaskan sebagai substansi bukan pada praktisnya, kita hadir masing-masing ditempat berbeda berkomunikasi secara virtual tetapi makna substansinya itu sama saja dengan berkumpul. Komunikasi virtual merupakan komunikasi yaitu proses penyampaian dan penerimaan pesan yang terjadi di cyberspace atau virtual yang bersifat interaktif. Menurutnya akan ada pertarungan atau legalitas dakwah, apakah dakwah itu sebagai lembaga-lembaga otoritatif. Ada banyak istilah digunakan dalam menyebut fenomena munculnya pesan-pesan agama di internet, ada cyberreligion, digital religion yang kemudidan dispesifikan menjadi istilah online religion. Dalam konteks dakwah Islam, online religion lebih relevan karena menggambarkan fenomena religious information presented online. Istilah online religion merujuk pada practicing religion online, keduanya istilah digunakan secara bergantian mengemukakan bahwa digital religion tidak sekedar merujuk pada agama yang diartikulasikan secara online, tapi berkaitan dengan bagaimana media dan ruang digital membentuk dan dibentuk oleh praktik agama. Internet sebagi ruang publik/public sphere Islam dengan penggunaan internet sebagai sarana penyajian pengetahuan Islam yang berimplikasi pada kemunculan Pratik dakwah Islam secara online.

Rully Nasrullah menjelaskan tentang Digital Research for Digital Culture, riset di internet ditemukan kesalahan umumnya adalah melakukan riset di internet dengan realitas baru dan komunikasi baru, namun melakukannya dengan perangkat (pisau) analisis yang muncul sebelum internet itu ada dan realitas yang melatarbelakanginya sangat jauh berbeda sama sekali. Analisis media siber bisa dilakukan dengan level 1). Ruang media (media space) objeknya adalah struktur perangkat media dan penampilan, 2).Dokumen media (media archive) objeknya isi dan aspek pemaknaan teks/grafis, 3). Objek media (media object), interaksi yang teradi di media siber, 4). Pengalaman (experiential stories) yaitu motif, efek, manfaat atau realitas yang terhubung secara offline maupun online. (Fita/mar)

Berita terkait: Fidikom UIN Jakarta Gelar Webminar Nasional Bertajuk Dakwah Virtual