Dari Bakti Orang Tua hingga Integrasi Iman-Intelektual: PkM Dosen KPI FDKOM UIN Jakarta Perkuat Mental Spiritual Mahasiswa UIN Raden Fatah di Masjid Darul Muttaqin Palembang
Palembang, 27 Oktober 2026.Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fdikom) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Palembang. Salah satu agenda utamanya adalah Pembinaan Mental Spiritual Mahasiswa UIN Raden Fatah yang dipusatkan di Masjid Darul Muttaqin, pada Senin-Selasa, 26-27 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi etalase penguatan dakwah akademik lintas kampus PTKIN.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi KPI Fdikom UIN Jakarta, Dr. Yopi Kusmiati, M.Si., menegaskan bahwa pemilihan Palembang sebagai lokasi PkM memiliki tujuan strategis yang melampaui kegiatan seremonial. “PkM ini kami desain dengan tiga tujuan utama,” ujarnya. “Pertama, sebagai wujud nyata komitmen tridharma perguruan tinggi untuk hadir dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat akademik di daerah. Kedua, untuk mendorong recognisi dan visibilitas fakultas serta universitas di kancah nasional, bahwa Fdikom UIN Jakarta aktif membangun peradaban dakwah dari Sabang sampai Merauke. Dan ketiga, yang paling penting, untuk merajut kolaborasi berkelanjutan antara Prodi KPI Fdikom UIN Jakarta dengan Prodi KPI FDK UIN Raden Fatah Palembang.”
Dr. Yopi menambahkan, kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan PkM, tetapi berlanjut pada kolaborasi kurikulum berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pertukaran dosen dan mahasiswa, riset bersama, hingga penguatan laboratorium dakwah digital seperti Rafa TV dan Laboratorium Fdikom UIN Jakarta. “KPI harus menjadi garda terdepan dalam literasi media dan dakwah digital. Kolaborasi ini adalah cara kita saling menguatkan,” tegasnya.
Sejalan dengan semangat tersebut, di hari pertama, Senin (26/10), tampil sebagai narasumber pertama Prof. Dr. H. M. Yakub, M.A. dengan tema “Berbakti kepada Orang Tua: Hikmah dan Implikasi pada Keberhasilan Akademik dan Keberkahan Hidup.” Dalam pemaparannya yang reflektif, Prof. Yakub menegaskan bahwa kesuksesan akademik tidak dapat dipisahkan dari akar spiritual berupa ridha orang tua. Prestasi dengan IPK tinggi akan kehilangan keberkahan jika dibangun di atas kelalaian terhadap birrul walidain. Berbakti, menurutnya, bukan sekadar etika sosial, melainkan kunci metafisik yang membuka pintu kemudahan ilmu dan ketenangan jiwa.
Pembinaan berlanjut di hari kedua, Selasa (27/10), dengan narasumber Zakaria, M.A., Kepala Laboratorium Fdikom UIN Jakarta. Ia mengusung tema “Integrasi Iman, Intelektual, dan Akhlakul Karimah: Refleksi untuk Proyeksi Kesuksesan Masa Depan.” Menurutnya, mahasiswa hari ini dihadapkan pada dikotomi berbahaya: iman yang kuat tanpa intelektualitas yang tajam, atau kecerdasan intelektual yang tinggi tanpa akhlak yang membimbing. Padahal tradisi keilmuan Islam selalu menekankan kesatuan triadik tersebut: iman sebagai kompas, intelektual sebagai mesin, dan akhlak sebagai kendali.
Untuk memperdalam refleksi, Zakaria mengutip Syaikh Imam Nawawi Al-Bantani: “Tidak ada negeri asing bagi orang yang berilmu, dan tidak ada kampung halaman bagi orang yang tidak berilmu,” serta kalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA: “Lisan orang yang cerdas berada di balik hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di balik lisannya.” Kedua kutipan ini menjadi landasan etik bagi mahasiswa dalam membangun ketangguhan intelektual dan adab dalam bermedia di era digital yang serba reaktif. Rangkaian kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus memperkuat jejaring PkM dan dakwah digital antara kedua prodi sebagai model kolaborasi PTKIN yang produktif.
