Cerita Pejuang Muda Kota Metro
Cerita Pejuang Muda Kota Metro
Halo, perkenalkan nama saya sifanaya wanda kinanti, biasa dipanggil sifa. saya saat ini mahasiswa semester 6 program studi kesejahteraan sosial fakultas ilmu dakwah dan komunikasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  Saat ini saya tinggal di kota Depok, Jawa Barat. Pada semester 5 lalu tepatnya pada bulan September saya mendapatkan informasi tentang Pejuang Muda melalui teman saya. Setelah saya membaca informasi tersebut ternyata Pejuang Muda merupakan program yang dibentuk oleh Kementerian Sosial RI yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan dan Kementerian Agama. Program ini dibuat untuk membantu kementerian sosial dalam menangani masalah-masalah sosial di 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia melalui para mahasiswa dari seluruh universitas di Indonesia. Selain itu para Pejuang Muda juga melakukan kegiatan perbaikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) melalui aplikasi bernama SAGIS KEMENSOS. Setelah mengetahui informasi persyaratan mendaftar saya mulai mempersiapkan berkas-berkas. Setelah mengumpulkan berkas-berkas di web Pejuang Muda saya menunggu pengumuman seleksi berkas yang dilakukan oleh pihak Kementerian Sosial. Setelah menunggu beberapa hari Alhamdulillah saya lolos seleksi pertama, dan mendapatkan jadwal untuk mengikuti seleksi ke dua yaitu seleksi Leaderless Group Discussion (LGD).  Pada saat melakukan seleksi LGD saya mendapatkan topik diskusi mengenai kemiskinan di Papua.  Akhirnya tiba juga pengumuman final Pejuang Muda RI,  saat membuka pengumuman Alhamdulillah saya lolos dan resmi menjadi Pejuang Muda RI Batch 1. Pada tanggal 13 Oktober 2021 saya sejak subuh sudah bersiap-siap untuk mengikuti pembekalan offline di Gedung Aneka Bhakti. Disana saya bersama 99 mahasiswa terpilih lainnya yang berdomisili di JABODETABEK. Disana kami berkesempatan mendapatkan pembekalan oleh pak Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI, ibu Tri Rismaharini selaku Menteri Sosial RI, pak Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan pak Yandri Susanto selaku Ketua Komisi VIII DPR RI. Hari itu kami membahas banyak hal mengenai program pejuang muda ini bersama para pemateri pembekalan pertama. Pembekalan Pejuang Muda dilaksanakan mulai dari tanggal 13-23 Oktober 2021. Pada tanggal 20 oktober kami mendapatkan pengumuman penempatan wilayah masing-masing. Saat saya melihat pengumuman ternyata saya di tempatkan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Saya sempat ingin mundur karena kotanya terlalu jauh dan orang tua sempat tidak merestui akhirnya saya berusaha mencari pejuang muda lain yang ingin bertukar kota dengan saya. Akhirnya saya bertukar dari Bantaeng ke Kota Metro di Lampung. Akhirnya setelah bertukar kota saya masuk ke grup whatsapp kota Metro yang didalamnya sudah ada 9 mahasiswa lain yang akan turun langsung di kota Metro Lampung. Akhirnya hari pemberangkatan tiba saya berangkat tanggal 27 Oktober 2021 menggunakan pesawat terbang ke lampung. Saya berangkat bersama 2 teman Pejuang Muda Kota Metro yaitu Mia dan Dion. Pejuang Mudah Kota Metro berjumlah 10 orang yang berisi saya Sifanaya dari Depok, Mia dari Bandung, Dion dari Jakarta Timur, Widia dari Lampung Barat, Wihda dari Metro, Ilham dari Waykanan, Zefflin dari Bengkulu, Yatani dari Nias, serta Panca dan Faisal berasal dari Cirebon. Di hari pertama kami berkumpul rasanya canggung karena kami benar-benar berasal dari kota dan universitas yang berbeda. Namun kami cukup bisa menyesuaikan diri karena sebelum keberangkatan saya dan 9 teman-teman lainnya sudah melakukan komunikasi melalui grup whatsapp. Saya tiba di kota Metro pukul 4 sore saat itu saya dan 2 teman lainnya langsung menyusul teman-teman lain ke dinas sosial Kota Metro. Disana saya dan teman-teman Pejuang Muda Kota Metro dengan formasi lengkap 10 orang memperkenalkan diri kepada staf Dinas Sosial Kota Metro dan Kepala Dinas Sosial Kota Metro.  Kami meminta izin untuk menjalankan tugas di lingkungan kota Metro. Sebelumnya kami sudah diberikan arahan oleh pihak KEMENSOS RI untuk menghubungi koordinator kota Metro yaitu ibu Silfiana. Selama menjalankan tugas di kota Metro ibu Silfiana lah yang membantu kami mempermudah akses untuk turun ke lapangan seperti membantu membuat janji dengan para pendamping PKH dan TKSK di Kota Metro juga membantu menjalin silaturahmi dengan para Kepala Kecamatan dan Kelurahan di seluruh kota Metro. Tugas kami selama di Kota Metro adalah mensurvei para penerima bantuan KEMENSOS RI terutama penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai dan juga melihat masalah-masalah sosial yang terjadi di kota Metro yang nantinya kami Pejuang Muda akan membuatkan sebuah project sosial untuk memajukan Kota Metro. Seminggu pertama yang saya dan para Pejuang Muda Metro lainnya adalah berkeliling mensurvei lokasi titik-titik yang akan kita datangi selama survey DTKS dan juga menjalin komunikasi dengan stakeholder setempat. Setelah beberapa hari menyesuaikan keadaan dan mengenali lokasi akhirnya kami mendapatkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) KEMENSOS RI. Kami mendapatkan total 6.259 Keluarga Penerima Bantuan (KPM) di Kota Metro yang kami bagi rata 10 orang. Survey dilakukan melalui aplikasi SAGIS KEMENSOS RI yang berisi 10 pertanyaan untuk para penerima bantuan dan diakhiri dengan memfoto tampak depan rumah yang nantinya akan secara otomatis menyimpan titik koordinat rumah penerima bantuan. Setiap harinya saya dan teman-teman berkeliling rumah warga penerima bantuan yang dibantu oleh para pendamping PKH maupun TKSK dan juga para ketua kelompok PKH. Setiap harinya kami memiliki target kurang lebih 20 KPM/orang. Namun terkadang kami bisa hanya 5-10 KPM karena cuaca yang tidak mendukung. Setiap harinya kami melakukan door to door untuk mensurvei para penerima bantuan. Saya bersyukur karena kami diterima dengan baik oleh masyarakat. Kendala yang terjadi biasanya sekedar jalur yang sulit dilalui ataupun cuaca yang kurang mendukung. Selain itu Bahasa juga menjadi kesulitan bagi saya karena rata-rata masyarakat di kota Metro berbahasa Jawa sedangkan saya tidak bisa berbahasa jawa. Lalu masalah sosial yang saya temukan di Metro adalah terdapat satu Pesantren Inklusif bagi para penyandang disabilitas yang sarana prasarananya cukup memprihatinkan. Karena hal itu saya dan teman-teman Pejuang Muda Kota Metro memutuskan untuk memberikan sosialisasi dan memberikan Kambing agar menciptakan Kemandirian Ekonomi bagi masyarakat lingkungan pesantren agar dapat memperbaiki sarana prasarana yang ada agar ramah disabilitas. Jika kalian penasaran dengan bagaimana saya menjalani hari-hari sebagai Pejuang Muda Kota Metro kalian bisa cek di ig @PejuangmudaMetro atau langsung ke youtube.