Cerita Pejuang Muda Kabupaten Gunungkidul
Berawal dari saya melihat informasi terkait program ini, kemudian saya iseng untuk mencoba daftar, mengumpulkan segala administrasi dari mulai cv, essai, portofolio, dll. Beberapa hari kemudian saya diumumkan lolos untuk mengikuti seleksi selanjutnya yaitu LGD (Leaderless group Discussion), dimana pada seleksi ini kami berdiskusi setiap kelompok untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang sudah diberikan oleh panitia. Alhamdulillah, saat berkas pengumuman di umumkan nama saya “Azzahra Rahmah Putri” terdaftar di dokumen tersebut sebagai peserta yang lolos program Pejuang Muda Kemensos RI ini.
Beberapa hari setelah pengumuman, saya dimasukan ke dalam grup WA untuk menjadi salah satu dari 100 perwakilan dari seluruh peserta Pejuang Muda yang terdiri dari 5000++ di seluruh Indonesia, untuk menghadiri opening serta kuliah umum secara offline di gedung Kemensos RI langsung. Suatu kebanggaan dan pengalaman yang tidak dapat saya lupakan saat itu bisa bertemu dengan Menteri Sosial, Bu M.T. Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T.. Disini saya mendapatkan banyak ilmu dan motivasi dari orang – orang penting seperti ketua dan anggota komisi DPR, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Ketua Pusdatin, dll.
Berangkat sebagai mahasiswi jurusan Kesejahteraan Sosial, fdikom, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menjadi suatu dorongan dalam diri untuk membantu pemerintah dalam menyejahterakan masyarakat. Dan untuk pertama kalinya, pada kesempatan ini saya bisa merasakan naik pesawat yang ditanggung oleh Negara. Alhamdulillah, saya ditempatkan di Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta. Melalui program ini, saya berkesempatan untuk turun langsung ke daerah – daerah pedesaan, yang terpelosok yang biasanya saya hanya melihat di buku atau saya dengar dari presentasi dosen. Dan setelah menjalaninya hampir dua bulan disini, saya merasa mendapatkan lebih banyak pelajaran dari masyarakat secara langsung.
Melalui program Pejuang Muda ini, kami diberikan dua tugas yaitu membantu melakukan verifikasi dan validasi DTKS serta membuat projek sosial. Saya dapat menyaksikan dan mendengarkan langsung keluh kesah dan sulitnya menjadi masyarakat yang terpinggirkan dari pusat kota. Salah satu tantangan mengabdi di lapangan dalam melakukan verval DTKS adalah faktor teknis. Seringkali medan lapangan tergolong blankspot/ tidak ada jaringan sehingga menghambat proses menggunakan aplikasi SAGIS. Selain itu, medan yang curam serta licin juga menjadi tantangan kami dalam turun langsung ke masyarakat disana. Masyarakat sekitar menyambut hangat kedatangan kami, sehingga mampu mengurangi rasa lelah kami dalam turun langsung ke rumah rumah mereka.
Meskipun projek sosial yang dijalankan oleh saya dan tim Pejuang Muda Kabupaten Gunungkidul belum dapat membantu menyelesaikan permasalahan sosial yang ada di Kabupaten Gunungkidul, namun kami sebagai Pejuang Muda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Program Pejuang Muda tidak hanya membawa saya pada pengabdian pada negeri ini. Akan tetapi, menemukan arti kekeluargaan ditengah manisnya mengabdi di Kabupaten Gunungkidul. Mengabdi sejatinya mengajarkan arti membawa empati ke sesama dan menanamkan kebaikan. Terimakasih untuk pengalaman indah Gunungkidul.

