# Ameodere, Spirit Islam dari Tanah Papua: Tim PKM KPI UIN Jakarta Belajar tentang Makna Bersegera Menuju Kebaikan
PAPUA –* Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu kewajiban dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, selain pendidikan dan pengajaran serta penelitian. Komitmen tersebut diwujudkan oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui kegiatan pengabdian langsung kepada komunitas Muslim di Papua.
Dalam rangkaian kegiatan pengabdian di wilayah Papua, tim PKM berkesempatan mengunjungi dan bersilaturahmi dengan komunitas Muslim Papua yang berada di bawah naungan Yayasan Ameodere. Yayasan ini dipimpin oleh Ismail Agia, seorang tokoh asli Papua yang memiliki kepedulian dan komitmen dalam membina serta mengembangkan kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di wilayah tersebut.
Kehadiran tim PKM KPI UIN Jakarta menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi, memperkuat silaturahmi, berbagi pengetahuan, serta memahami secara langsung dinamika kehidupan masyarakat Muslim di Papua.
Dalam kesempatan tersebut, tim PKM menyampaikan bahwa tugas seorang dosen tidak hanya terbatas pada kegiatan mengajar di ruang kelas atau menyampaikan materi perkuliahan kepada mahasiswa. Dosen juga memiliki tanggung jawab sosial dan akademik untuk hadir serta memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
"Selain melaksanakan tugas pengajaran di perguruan tinggi, dosen juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini merupakan salah satu perwujudan dari tanggung jawab tersebut. Kami tidak hanya berbicara tentang teori di ruang kelas, tetapi juga harus turun langsung ke tengah masyarakat, melihat realitas kehidupan mereka, membangun komunikasi, berbagi pengetahuan, dan memberikan kontribusi sesuai dengan kapasitas keilmuan yang kami miliki," ungkap perwakilan tim PKM.
Menurut tim PKM, kehadiran dosen di tengah masyarakat merupakan bentuk implementasi keilmuan agar pengetahuan akademik tidak berhenti sebagai teori, melainkan dapat memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat. Terlebih, masyarakat di wilayah 3T membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.
### Ameodere: Filosofi Bersegera Menuju Kebaikan
Salah satu hal menarik dalam pertemuan tersebut adalah penjelasan Ismail Agia mengenai filosofi nama Yayasan Ameodere. Ia menjelaskan bahwa Ameodere memiliki makna *bersegera menuju kebaikan*.
Filosofi ini mengandung pesan keagamaan yang sangat mendalam. Menurut Ismail Agia, kebaikan harus segera dilakukan dan tidak boleh ditunda-tunda. Ketika seseorang hendak melaksanakan salat, maka hendaknya segera menunaikannya. Ketika memiliki kesempatan untuk membantu orang lain, jangan menunggu waktu yang lain. Demikian pula ketika seseorang menyadari kesalahan dan ingin bertobat kepada Allah SWT, hendaknya segera melakukannya.
Pesan tersebut menjadi prinsip yang terus ditanamkan dalam kehidupan komunitas Muslim yang dibinanya. Ismail Agia mengajak masyarakat untuk senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, memperkuat keimanan, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 148:
*فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ*
" Maka berlomba-lombalah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan."
Filosofi Ameodere memperlihatkan bahwa dakwah Islam dapat tumbuh melalui nilai-nilai sederhana yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Menyegerakan salat, membantu sesama, memperbaiki diri, serta membangun kepedulian sosial merupakan bagian dari praktik keberagamaan yang perlu terus dikembangkan.
### Belajar dari Ketulusan Tokoh Lokal Papua
Bagi tim PKM KPI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pertemuan dengan Ismail Agia dan komunitas Muslim Yayasan Ameodere menjadi pengalaman yang berharga. Di tengah berbagai tantangan kehidupan masyarakat di wilayah Papua, terdapat semangat dan inisiatif masyarakat lokal untuk membangun kehidupan keagamaan secara mandiri melalui pembinaan komunitas.
Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan dakwah Islam tidak hanya membutuhkan dukungan institusi formal, tetapi juga membutuhkan peran aktif tokoh masyarakat, pendidik, dan para penggerak komunitas di tingkat lokal.
Kehadiran Ismail Agia sebagai putra asli Papua yang memimpin dan membina komunitas Muslim menjadi gambaran penting tentang kontribusi masyarakat lokal dalam merawat kehidupan beragama, memperkuat persaudaraan, dan menanamkan nilai-nilai kebaikan.
Melalui kegiatan ini, tim PKM berharap terbangun hubungan kemitraan yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan komunitas Muslim di Papua. Pengabdian masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi berkembang menjadi kerja sama dalam bidang pendidikan, literasi digital, komunikasi dakwah, moderasi beragama, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pengabdian semacam ini merupakan wujud nyata kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga harus menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang dihadapi masyarakat.
*Ameodere mengajarkan sebuah pesan sederhana, tetapi mendalam: jangan menunda kebaikan. Sebab, dakwah bukan hanya tentang apa yang disampaikan, melainkan juga tentang apa yang dilakukan dan seberapa besar manfaatnya bagi sesama.(Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.)
