Habis Masa Status Akreditasi, Kualitas Dosen dan Mahasiswa Diuji dalam IPEPA
Habis Masa Status Akreditasi, Kualitas Dosen dan Mahasiswa Diuji dalam IPEPA
[caption id="attachment_8251" align="aligncenter" width="1024"] (Instagram/@dhuwdhuwdhuw)[/caption] Belakangan ini, istilah Citayam Fashion Week kerap ramai diperbincangkan oleh masyarakat luas, khususnya di media sosial. Panggung ini dibuat oleh para remaja Citayam, Depok, dan Bojong Gede, Bogor yang sering berkumpul di Jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, dan Jakarta Pusat dengan memakai pakaian gaya jalanan yang cukup modis.   Tak hanya remaja Citayam dan Bojong Gede, remaja lain dari Bekasi hingga penjuru DKI Jakarta pun kerap berkumpul di kawasan tersebut, menjadikan Terowongan Kendal, Stasiun Dukuh Atas, dan Jalan Jenderal Sudirman sebagai tempat untuk jalan-jalan dan bermain.   Dilihat dari akun Instagram @dhuwdhuwdhuw pada Senin (18/7), terdapat beberapa postingan yang memotret wilayah Jalan Jenderal Sudirman penuh dengan remaja berkumpul dengan kelompoknya masing-masing dengan pakaian street style yang cukup menarik perhatian. Ada yang memakai hoodie, ikat kepala, topi, jeans dengan bordiran besar, kemeja yang dilipat, dan juga kacamata.   Tak sedikit fotografer yang sengaja datang ke wilayah tersebut untuk berlomba memotret gaya mereka. Mereka meminta para remaja SCBD untuk bergaya seperti menyebrangi zebra cross, berjalan di trotoar, atau bergaya ekspresif dengan latar belakang gedung yang tinggi.   Ramainya fenomena ini di media sosial mengundang berbagai macam komentar dari netizen Indonesia, salah satunya pemilik akun TikTok bernama @varesasenio yang memberikan komentar positif atas unggahan video yang menayangkan aksi Citayam Fashion Week pada akun TikTok bernama @syaslash yang diunggah pada Minggu (17/7).   “Gapapa dah daripada tawuran, balap liar, mending gini dah asal gak merugikan orang lain,” ungkapnya.   Selain itu, tak sedikit pula netizen yang memberikan komentar negatif atas fenomena tersebut, salah satunya pemilik akun TikTok bernama @telurpuyuhoriginal pada video yang diunggah oleh akun TikTok @tempo.co pada Senin (18/7).   “Bikin macet saja di negara sendiri”, ujarnya.   Namun disadari atau tidak, apa yang telah dilakukan oleh para remaja SCBD tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap narasi kemapanan dan standar kelayakan masyarakat yang disampaikan melalui fashion. Mereka datang ke tempat yang dicitrakan sebagai metropolitan dan selama ini dikesankan milik high class.   Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Asep Suryana menilai bahwa remaja-remaja tersebut merupakan anak-anak generasi kedua. Orang tuanya memiliki keterbatasan dalam ekonomi sehingga kurang mampu untuk membeli rumah di Jakarta, dan terpaksa memilih untuk tinggal di daerah pinggiran seperti Citayam.   Saat menempuh Program Pascasarjana Sosiologi di Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia tahun 2006, Asep membahas Citayam dalam tesisnya yang berjudul “Suburbanisasi dan Kontestasi Ruang Sosial di Citayam, Depok”.   Asep menjelaskan bahwa remaja Citayam ini merupakan kaum bawah yang berasal dari pelosok dan harus diterima di Dukuh Atas, tempat yang didominasi dengan stigma modern dan bersih. Namun, Asep meminta agar masyarakat tidak memberikan stigma buruk kepada mereka, melainkan memfasilitasinya dengan baik karena mereka juga memerlukan masa depan.   Stigma negatif yang diberikan kepada remaja-remaja tersebut seharusnya direkayasa supaya bergeser. Mereka harus mengakomodasi dari tempat mainnya, kegiatan, dan lainnya. Mereka butuh pengembangan diri, kalau gagal, kemungkinan mereka bisa jadi calon preman. [caption id="attachment_8252" align="aligncenter" width="768"] (Instagram/@dhuwdhuwdhuw)[/caption] Sejumlah remaja pada ajang Citayam Fashion Week. (Instagram/@dhuwdhuwdhuw) Sementara itu, fenomena ini juga dapat dinilai memiliki keunikan sebagai hal positif untuk membawa Jakarta sebagai kota multikultural. Layaknya kota elit di dunia, keberagaman fashion, bahasa, hingga tempat berekspresi sepatutnya ada di Jakarta.   Menurut pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, Jakarta sudah seharusnya memiliki ruang publik untuk berekspresi, khususnya bagi generasi muda. Fenomena SCBD juga tidak sebatas remaja datang dan menikmati suasana Ibu Kota. Hal ini juga dapat mendorong Pemrov DKI Jakarta untuk memaksimalkan potensi dari generasi muda. Misalnya, mengadakan pentas skala kecil.   Terdapat tiga faktor dalam fenomena remaja SCBD, yaitu faktor penarik, pendorong dan mobilitas. Faktor penariknya adalah Jakarta sedang berbenah, mulai banyak memiliki public space. Hal itu menjadi daya tarik banyak orang, termasuk generasi muda dari pinggiran Ibu Kota.   Lalu, faktor pendorong lebih ke ekspektasi anak muda untuk menjadi bagian dari wilayah Ibu Kota. Seperti, bekerja atau menjadi warga Jakarta. Menurutnya, permasalahannya adalah banyak remaja SCBD yang tidak mempunyai karakteristik budaya yang sama dengan warga perkotaan.   Sementara itu, menyoroti faktor mobilitas, Rissalwan mengapresiasi perhatian Pemprov DKI terhadap akses transportasi yang semakin mudah dan murah. Namun, faktor yang membuat viral fasilitas tersebut ialah momentum libur sekolah.   Melansir dari Antara News, Dinas Kebudayaan (Disbud) DKI Jakarta memberikan tanggapan bahwa fenomena Citayam Fashion Week tersebut memerlukan pembinaan agar lebih terarah. Alasannya, kawasan Dukuh Atas atau yang berada dekat Stasiun Sudirman City itu merupakan kawasan lalu lintas yang juga banyak kendaraan lalu lalang.   “Pemberian edukasi, pemberian pemahaman bahwa ruang ketiga harus dibuat sedemikian rupa sehingga mereka nyaman”, kata Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Henry Wardhana, dilansir dari Antara News pada Selasa (19/7).   Ia menilai peragaan busana atau dikenal “Citayam Fashion Week” itu merupakan sebuah fenomena baru dari aktivitas generasi muda dalam pengembangan ekspresi dari sisi kesenian. Untuk itu, ia tidak ingin kegiatan ekspresi anak muda itu ditindak.   Mengenai fenomena ini, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun memberikan tanggapan. Ia menjelaskan bahwa ruang ketiga yang sudah dibangun tersebut memang disediakan sebagai ruang yang menstaterkan.   Jalan Sudirman dengan trotoar selebar itu tidak hanya diperuntukkan kepada masyarakat menengah ke atas dan pekerja wilayah itu saja, melainkan siapa pun, termasuk warga Jabodetabek lainnya bisa menikmati wilayah tersebut dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang ada. Bahkan Anies berujar, demokrasi itu terjadi di tempat ini, siapa saja bisa menikmati, dan ketika membangun dikerjakan tidak sendiri, tapi berkolaborasi. Reporter Muhammad Rizza Nur Fauzi; Editor Belva Carolina  Berita ini sudah naik tayang di web dnktv.ac.id